Marketing Souls for Starving Marketers

Blog EntryMemaksimalkan Inner Power, Meminimalkan AnggaranAug 28, '06 12:47 AM
for everyone

Mungkin judul artikel di atas sedikit menimbulkan tanda tanya. Utamanya buat perusahaan ataupun korporasi kelas kakap yang kerap lupa diri karena tuntutan prestige. Ketika pertama kali terjun di dunia advertising, saya pun masuk dalam lingkaran pemuja prestige bahwa untuk menjadi besar dibutuhkan pengorbanan yang ekstra besar juga. Bahwa untuk merajai pasar diperlukan kantong cadangan yang super besar juga. Dalam berbagai kesempatan diskusi bab komunikasi pemasaran pun saya tak lupa menyelipkan pesan tentang pentingnya anggaran khusus untuk membesarkan sebuah brand.

Respon atas rekomendasi saya waktu itu beragam sekali. Namun kebanyakan saya berhasil meyakinkan kolega ataupun klien bahwa memang untuk menjadi besar harus ada bujet promosi. Dasar memang jualan, saya dengan optimisnya memberikan rekomendasi marketing tools mulai dari sekedar kartu nama, brosur hingga produk digital macam website ataupun multimedia profile. Sebenarnya biaya ditawarkan waktu itu mahal sekali kalau kita tahu biaya produksi secara real. Belum lagi, bila difikir lebih dalam mengenai skala prioritas, perusahaan tersebut belum waktunya bikin website. Market coverage-nya kelas C. Tapi apa boleh buat, klien-nya dengan enteng keluarkan duit gedhe. Yang terfikir olehnya adalah prestige dan kebanggaan bahwa marketing tools-nya digarap oleh sebuah agency ternama.

Ketika akhirnya saya memutuskan untuk bermutasi ke korporat, ada beberapa kejadian menarik yang membuat saya sedikit guncang. Ketika berada dalam sebuah environment baru dan 99 persen penghuninya berfikiran tradisional, utamanya soal brand building, saya menjadi sedikit terdesak. Idealisme dan paradigma berfikir saya yang ad-sentris ternyata tidak lebih baik dari kondisi real yang ada di lapangan. Saya kemudian terjerembab dalam kubangan ketidakpragmatisan diri yang angkuh.

Wahai Saudara Saudariku para marketer dan orang awam sekalipun-marilah kita berfikir sedikit lebih arif soal uang dan pola perilaku penggunanya. Dalam keadaan tidak ada uang sepeser-pun, seseorang bisa menjadi perencana keuangan yang handal. Ketika pertama kali bekerja sebagai seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, saya digaji 600 ribu perak per bulan. Meski masuk kategori pas-pasan, tapi itu sudah cukup buat saya. Saya tidak kurang suatu apa. Buat makan malah yang enak-enak. Ketika penghasilan mulai beranjak membaik, gaya hidup saya pun bergeser. Sedikit borjuis dan cenderung konsumtif. Meski gaji naik, pengeluaran saya makin menggila.

Sorry..itu tadi sedikit omong kosong. Saya hanya ingin menganalogikan perilaku berbisnis dengan contoh sederhana, dalam perencanaan keuangan pribadi misalnya. Sekarang kita kembali ke masa ketika saya berada dalam area korporat. Secara kebetulan korporasi tempat saya bergabung owner-nya adalah asli dari Cina daratan. Di sini saya banyak belajar dari beliau. Bahwa berapapun yang kita keluarkan harus mampu menggenerate sales dalam jangka pendek. Luar biasa. Sekaligus membingungkan. Luar biasanya, ini adalah sebuah tantangan. Bingungnya, sepertinya ini adalah hal yang mustahil.

Untuk sebuah efektifitas bisa jadi pendapat beliau ada benarnya. Yang bisa saya tangkap adalah kearifan dalam memetakan tiap pos pengeluaran. Ketika perusahaan menganggarkan biaya promosi sekian milyar, bukan berarti serta merta harus kita habiskan. Jika kita bisa berkreasi dan memaksimalkan sumber daya manusia yang kita miliki kenapa juga harus melakukan brand outsourcing kepada pihak luar? Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada kawan-kawan di advertising agency ataupun brand consultant, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepada para brand manager, marketing manager, dan PR manager, "What if someday you could map your creative idea, explore your ideas, and then act as the creative director for your own products? Tentu saja, sebuah advertising agency tidak terlibat di dalamnya. Anda hanya boleh bekerja dengan sutradara. Dialah partner Anda untuk berkreasi. Sedikit susah bukan?

Jika Anda mampu melakukan hal itu, saya yakin sekali Anda akan memperoleh apa yang Anda inginkan. Efisiensi dan kepuasan. Karena di sini Anda telah melakukan efisiensi biaya yang luar biasa. Anda bersentuhan langsung dengan elemen produksi. Anda jadi tahu betul breakdown dari tiap pos pengeluaran. Sisa anggaran yang ada bisa digunakan untuk program komunikasi di tahun berikutnya. Selain itu, Anda bukan saja menyandang gelar brand manager, tapi juga creative director. Anda juga puas dan dengan bangga mengatakan bahwa ini lo iklan yang sudah saya bikin.

Terus terang saya belum pernah melakukan riset dengan data kuantitatif yang presisi. Tapi saya yakin bahwa outsourcing lebih menjadi pilihan buat Anda. Ngapain repot-repot?Kita tinggal ongkang-ongkang, iklan pasti sudah jadi. Saya tidak bermaksud mengharamkan preferensi yang sudah jadi opsi utama. That's your choice! Saya hanya berusaha memaparkan sebuah analogi, jika kita bisa bikin TVC dengan bujet 50 juta kenapa juga kita harus keluarkan duit 150 juta?? Saya yakin Anda lebih paham mengenai product knowledge yang Anda jual daripada advertising agency yang anda hire. Itulah kenapa saya sedikit ngotot berargumentasi bahwa "You are the Key Player!".

Semalam baca Anti-Marketing-nya Kafi Kurnia soal eksekutif busuk. Ini adalah sebuah pandangan yang lebih ekstrem lagi. Bahwa return investment harus jelas. Jika Anda memproduksi iklan senilai Rp. 100 juta, setelah beriklan Anda harus dapatkan nilai lebih dari Rp.100 juta atas penjualan produk Anda. Ini bukanlah semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan keras, apalagi komoditi yang Anda jual adalah new product. Budaya tampil cantik secantik-cantiknya tanpa berfikir atas investasi yang dikeluarkan inilah yang disebut Si Jabrik sebagai eksekutif busuk.

Saya rasa ini hanya sekedar pengungkapan gagasan yang bisa dipertimbangkan. Ketika Anda bertindak sebagai manajer, Anda bukanlah pekerja. You are the owner. You are not the vehicle, as you are the think tanker. Saya hanya ingin mengajak Anda memaksimalkan inner power dan meminimalkan anggaran promosi. Lain tidak. Di sini tidak ada maksud mendeskreditkan profesi brand consultant ataupun advertising agency. Kehadiran mereka tetap penting sebagai mitra kerja Anda apabila kondisi departemen Anda kurang memungkinkan Anda untuk bekerja sendiri. Dengan kerja tim yang baik antara Anda dan mereka, sudah pasti hasilnya akan memuaskan. 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help