 | Welcome Marketers | Aug 27, 2006 |
This blog is dedicated for those whose life are inspired greatly by the world of marketing. I prefer to mention the blog as the Marketing Center, the world in which we have to always think out of the box. The Center in which we do always move forward further than anyone else. Faster than other competitors! Setelah sekian lama nama Inul Daratista mulai tenggelam, free blank space dalam musik dangdut kemudian diramaikan oleh para artis dangdut yang boleh dibilang memiliki karakteristik berpenampilan yang mirip-mirip. Kebanyakan art performing berupa gaya berjoged yang asyik meliuk-liuk dan heboh serta disukai kaum adam-lah yang paling laris. Sebut saja si cantik Ira Swara, Uut Permatasari dengan goyang ngecor, Nita Thalia, Trio Macan, atau bahkan yang belakangan santer diberitakan yaitu Dewi Persik.
Yang disebut terakhir bahkan saat ini adalah penyanyi dangdut yang mungkin paling sering dibicarakan oleh infotainment. Ranah dangdut kemudian kembali menjadi sorotan setelah Dewi Persik dicekal tidak boleh tampil di Tangerang oleh sang Kepala Daerah. Alasannya aksi panggung Dewi Persik dinilai berlebihan dan kurang sesuai dengan adat budaya ketimuran.
Musik dangdut adalah jenis musik yang telah cukup lama dikenal oleh bangsa Indonesia. Asal muasal sejarahnya juga tidak terlalu jelas. Yang pasti cikal bakal musik dangdut adalah dari irama Melayu. irama Melayu menjadi sangat fenomenal ketika pada tahun 1950-an Ellya Khadam menyanyikan Boneka dari India. Lagu hasil besutan musisi Husein Bawafie tersebut mampu menyihir jutaan rakyat Indonesia kala itu. bukan hanya irama lagunya yang mengasyikkan namun kemerduan, sensualitas suara Ellya mampu membuat penonton serasa berdegup kencang di tiap hentakan suara gendang-nya. Sampai kini pun lagu tersebut dianggap menjadi sebuah legenda bersama dengan sang penyanyi pula.
Setelah itu bermunculanlah penyanyi-penyanyi dangdut yang lain. Hingga berkembang ke era Soneta yang dipimpin Rhoma Irama. Musik dangdut menjadi semakin digemari terutama karena lirik-lirik yang ditulis Rhoma dianggap banyak yang berisi dakwah. Tema yang sangat sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia yang memang mayoritas beragama Islam. Apalagi irama yang ditawarkan oleh Soneta sangat dinamis dan beritme rapat.
Nyaris jaman dulu tidak ada perdebatan dalam kancah musik dangdut. Semuanya berjalan wajar dan murni musik ini dianggap sebagai salah satu media hiburan. Kini musik dangdut menjadi begitu ramai dibicarakan dan disorot tajam karena bukan lagi dianggap sebagai hiburan tetapi lebih menjadi potret terdegradasinya moral bangsa.
Sebenarnya masalah ini memiliki 2 kelompok yang baik itu mendukung (pro) dan menentang (kontra). Ketika sang produser musik ataupun si artis menjual sesuatu yang dianggap tadi sebenarnya bukanlah tanpa alasan. Mereka melakukan itu memang karena ada demand. Artinya aksi panggung yang heboh memang cenderung mendatangkan pundi-pundi yang tidak sedikit. Gak lengkap rasanya nonton dangdut tanpa dibumbui aksi panggung yang aduhai.
Ada satu pertanyaan yang sebenarnya juga merupakan challenge buat para musisi dan artis dangdut. Bisa nggak ya kita menciptakan musik dangdut sebagai musik yang acceptable buat semua kalangan? Dewi Persik hanya memiliki pasar katakanlah yang menggemari aksi panggungnya saja. Jika Dewi Persik mau memahami serta mengakomodasi penggemar yang menyukai hanya musik dan vokalnya...bagaimana? Yang jelas pasar akan terserap lebih banyak.
Industri musik bisa bermain idealistis bisa pure bisnis. Jika anda bermain idealistis maka niche market yang akan didapat, contohnya musik jazz. Bandingkan jumlah penggemar musik jazz dengan penggemar musik dangdut di negeri kita. Bisa sangat berat sebelah bukan? So Dewi Persik....You have very good voice..then let us make our people amazed with your great voice, dynamic music, and of course high quality music composition. Good Luck Dewi...
|  | With her lovely rabbit in Pati, Central of Java |
|  | Ini juga kenangan saat saya di advertising agency. Mendokumentasikan aktifitas di depo sebuah perusahaan pelayaran nasional. |
Anda tahu the Body Shop? Jika Anda kaum hawa yang gemar mempercantik diri tentunya mengenal anjungan pernak-pernik bersolek dari negeri seberang ini. Kini, setelah berdiri lebih dari 28 tahun, the Body Shop tumbuh menjadi sebuah bisnis multi local dengan 1980 outlet yang melayani 77 juta pelanggan di 50 market yang berbeda, di 25 jenis bahasa yang berbeda, dan di 12 zona waktu dunia. Anita Roddick, si pendiri The Body Shop sendiri tidak pernah menyangka bahwa bisnis yang berawal dari pemikiran idealisme-nya tersebut akan tumbuh sedemikian besar. Anita melihat betapa kejam perlakuan manusia terhadap alam. Memang terlihat sepele ketika kita begitu saja membuang kemasan kosmetika yang isinya sudah kita kuras habis. Kita tak pernah berfikir lebih bijak bukan bahwa apa yang barusan kita lakukan bisa berarti menimbun atau bahkan menciptakan gunungan sampah secara sia-sia? Kenapa kita tidak pernah berfikir untuk mengolahnya kembali dan kemudian memanfaatkannya lagi? Konsep "healthy environment" menjadi kian penting saat dunia melupakan betapa indahnya hidup dengan sehat. Bagaimana segarnya mata memandang ketika di depan kita tumbuh hijaunya pepohonan yang rindang. Anita tidak hanya sekedar berbisnis. Anita mengusung misi social yang menjadi idealisme-nya. Itulah kenapa produk kecantikan yang dihasilkannya jauh dari perusakan lingkungan yang biasanya menjadi efek samping dari sebuah industri. Anita konsisten dengan perlindungan terhadap bumi, melarang percobaan produk terhadap binatang, dan juga mempertahankan hak asasi manusia dari pelanggaran alam lingkungan. Sadar atau tidak disadari Anita telah menciptakan satu diferensiasi produk, yaitu kepedulian terhadap lingkungan. Apa yang dijual oleh Anita? Anita bukan hanya berbisnis tapi juga beramal. Itulah yang membedakan line business-nya dengan competitor. Ketika seorang sales menjual barang dagangannya dan kemudian hampir putus asa karena persaingan harga yang sangat ketat tidak mungkin bagi dia untuk kemudian membantingnya untuk kemudian baru menang. Mungkin ini bisa terjadi sekali waktu. Namun tidak bisa selamanya memenangkan sebuah pertarungan dengan strategi seperti itu bukan? Anda bisa dipecat oleh si boss. Seorang salesman tanpa disadari juga memiliki modal ilmu marketing. Hanya saja sampai seberapa kedalaman ilmu yang dimiliki itu yang musti digali lebih dalam lagi. Banyak yang harus dipelajari. Titik tolaknya adalah memahami keinginan konsumen. Saat sebuah produk diluncurkan, sebelumnya Anda pastikan telah melakukan riset terhadap pasar. Pahami karakter konsumen secara makro dan spesifik, sampai sejauh mana jangkauan market share Anda, dan pengetahuan tentang competitor Anda. Tim sales yang kuat seperti yang ada di IBM, Hewlett Packard, dan Astra International terbentuk dengan perencanaan yang matang, bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Kinerja penjualan yang tinggi secara konsisten hanya dapat terjadi dari sebuah sales system yang terencana secara baik dan memang dirancang untuk menjamin kinerja yang optimum. Namun, merancang sebuah system sales adalah hal yang cukup rumit. Di satu sisi, perancangan system sales adalah sebuah science, karena sales manager harus dengan cermat mempertimbangkan banyak factor yang saling terkait dalam sebuah proses pengelolaan penjualan. Di lain pihak, menyeimbangkan factor-faktor ini secara tepat adalah sebuah seni. Seorang salesman yang baik bukan sekedar memiliki product knowledge. Untuk mencapai kompetensi yang paripurna dia juga harus memiliki customer knowledge dan competitor knowledge. Ketika dia benar-benar telah memahami product knowledge berikut kelebihan dan kekurangannya, maka kemudian dia harus meneropong bagaimana tipikal konsumen dan siapa saja pemain di bisnis ini. Tak lupa trend yang terjadi di pasar bisa jadi pertimbangan utama untuk menentukan kebijakan dan strategi sales berikutnya. Banyak sekali shortcut bagaimana cara menjual yang baik. Tergantung memandangnya dari sudut pandang mana, jenis produk dan layanan, hingga ke komunikasi marketing-nya. Namun demikian, setidaknya ada 5 (lima) karakteristik utama seorang sales people yang andal, di antaranya: - Results Focused; yaitu berorientasi pada hasil akhir. Semua aktifitas yang dilakukan harus bertujuan untuk meningkatkan penjualan, karena pada akhirnya kesuksesan diukur dari pencapaian target penjualan.
- Courageous; Sales People harus memiliki keberanian dan kebijaksanaan untuk mengambil keputusan sekalipun terhadap keadaan yang tak terduga.
- High Energy; Sales People harus memiliki semangat tinggi tak kenal menyerah.
- Knows People; dia harus punya jaringan luas, kemampuan komunikasi interpersonal yang baik dan mampu memahami karakter konsumen yang beragam.
- Committed to Growth; tidak boleh puas dengan keadaan yang ada. Semangat lebih maju dan berinovasi harus terus ada.
Paling penting sebenarnya adalah menganggap bahwa profesi ini adalah sebuah hal yang prestisius. Berbanggalah Anda yang menjadi sales people karena Anda-lah ujung tombak perusahaan, Anda-lah yang punya peran sangat potensial untuk tumbuh dan berkembangnya perusahaan. Jika Anda tidak pernah mencintai pekerjaan ini, niscaya keberhasilan tidak akan pernah datang kepada Anda. Tidakkah Anda ingin menuai sukses besar dengan produk atau layanan yang Anda jual? Tidak inginkah produk yang Anda jual akan begitu dicintai oleh konsumen sehingga mereka enggan untuk berpaling hati ke produk lain? Coba lihat bagaimana nama-nama besar seperti Microsoft, Coca Cola, dan P&G. Keberhasilan mereka tidak bisa terlepas dari peran tim sales dan marketing yang mampu membaca kondisi pasar, menciptakan produk baru, melihat trend dan kemudian melakukan inovasi secara regular bahkan terkadang sangat revolusioner. Para sales people-sudahkah Anda melakukannya?? (disarikan dan diadaptasikan dari berbagai sumber) Masih ingat dengan fenomena Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya? Betapa dunia hiburan kita saat itu begitu tersentak dengan kehadiran “wong Gempol Pasuruan” yang begitu fenomenal ini. Corak dan gaya bergoyang dangdut yang selama ini mengikuti garis dan pola yang begitu umum dikejutkan dengan goyang ngebor ala Inul yang aduhai dan menimbulkan decak kagum. Tak urung, goyang ngebor Inul menjadi begitu digemari semua kalangan. Mulai dari golongan rakyat jelata, tua muda, besar kecil, pejabat Negara, bahkan sesama seniman dangdut pun terhenyak dengan goyangan Inul. Semuanya ikutan latah ngebor. Lagu-lagu Inul yang meski cuma daur ulang pun terdengar begitu beda jika Inul yang mendendangkannya. Sambil bersenandung tak urung anak-anak kecil pun di gang-gang sebelah rumah ikutan ngebor. Bukan hanya itu. Undangan tampil di berbagai stasiun televisi, hajatan pejabat, ataupun talk show pun terasa tak lengkap jika Inul Daratista, Sang Ratu Ngebor tidak hadir. Terjadi perubahan radikal dan tak umum ketika fenomena ngebor ini popular. Belakangan muncul goyang ngecor ala Uut Permatasari atau goyang patah-patah yang dikenalkan oleh Annisa Bahar. Ada yang pro ada yang kontra dengan popularitas Inul. Yang kontra menganggap bahwa goyang ngebor tidak sesuai dengan ukuran moralitas budaya lokal. Goyang ngebor dianggap bisa menimbulkan syahwat kaum Adam, tak pantas dikonsumsi anak kecil, dan berakibat pada terdegradasinya moral bangsa secara makro. Sementara yang pro menganggap bahwa Inul membawa angin segar dalam musik dangdut. Musik dangdut yang standard mungkin hanya dinikmati segmen tertentu saja. Tetapi ketika goyang ngebor menyeruak di tengah kerumunan, konsumen musik kelas atas pun seakan terperangah dan ikutan ngebor. Terlepas dari kecaman berbagai pihak yang menuding Inul telah merusak platform “bermusik dangdut yang baik dan benar” saya menganggap bahwa fenomena ini adalah sebuah bagian dari pop culture yang ada di masyarakat. Pun ketika kelompok kontra Inul rame-rame melakukan aksi demo dan menyatakan keberatan dengan goyang ngebor, saya pribadi malah tidak terlalu risau. Yakin benar saya bahwa goyang ngebor tak akan berlangsung lama. Popularitas yang muncul terlalu instant dan tidak melalui proses pembelajaran serta eksperential yang mendalam. Akhirnya terbukti benar. Seiring waktu popularitas Inul makin meredup. Seiring itu pula cacian dan makian atas goyang ngebor pun menghilang begitu saja. Meski Inul masih menyanyi hingga kini, tapi kehadirannya dianggap sebagai personifikasi yang standard, seorang penyanyi dangdut sebagaimana umumnya. Pop Culture atau budaya pop didefinisikan sebagai bagian dari budi dan daya yang diciptakan manusia dan menjadi sebuah acuan/panutan/dan atau gaya hidup populasi sekitarnya. Pop Culture memiliki sifat yang tidak permanent, tidak long lasting, tetapi menjadi sangat fenomenal meski sesaat. Jenis budaya ini menjadi trend di tahun 90-an saat kelahiran aliran musik yang mengikuti trend pasar. Easy come and easy go! Inilah prinsip dari sebuah pop culture. Brand character yang dimiliki oleh sebuah pop culture tidak memiliki landasan yang kuat. Pop culture hanya menjawab selera pasar dengan menciptakan hasil kreatifitas yang dahsyat, membumi, dan tentunya instant dalam ROI-nya. Tak sedikit bahkan bisa dibilang mayoritas karya budaya kita baik itu musik, film, ataupun teledrama mengikuti arus budaya pop yang hingga kini masih menjadi trend. Tak pelak sangat jarang kita bisa menikmati musik ataupun film yang berkualitas. Nada-nada musik yang begitu-begitu saja ataupun film-film bertema horror atau sekedar roman cinta-cintaan. Belum lagi dunia sinetron kita yang begitu marak dengan tema anak bau kencur yang sudah kenal dengan cinta. Trend budaya pop yang mengenaskan. Coba bandingkan pop culture dengan jenis budaya atau ikon budaya yang melegenda macam Koes Plus, Beatless, Chrisye, atau si Harry Potter? Sama dengan yang terjadi pada goyang ngebor, trend sinetron cinta-cintaan anak kencur pun bakalan menghilang dengan sendirinya. Ini bakalan terjadi pula pada sinetron legenda, sinetron laga, ataupun reality show tayangan hantu yang sudah tersingkir duluan. Inti dari semua ini adalah bagaimana menciptakan sebuah karya yang melegenda, berkualitas, dan tentunya dinikmati pasar sepanjang hayat, sepanjang usia bumi berputar. Tentunya dengan afirmasi bahwa pop culture tidak harus kita hindari. Ini adalah sesuatu yang alamiah mengingat market demand memang sangat tinggi. How to create Good Brand Character untuk Selebriti Ada beberapa tips menciptakan karakter brand untuk Selebriti yang saya sarikan dari hasil pengamatan dan studi lapangan saya. Di antaranya: - Ciptakan jenis keahlian khusus yang dimiliki. Ini adalah initial process yang penting untuk starting point.
- Tiupkan ruh (baca:karakter) pada jenis keahlian yang hendak disampaikan. Jika berupa musik, buatlah musik yang berbeda dibandingkan dengan musik yang pernah ada di pasaran. Sesuatu yang baru memang perlu proses edukasi. Tapi kalau sebuah karya dihasilkan dari sebuah proses yang matang, resultnya adalah sebuah budaya yang melegenda.
- Ciptakan karakter personal brand yang unik, berbeda, dan aktraktif. Jauhkan kesan pribadi yang bersifat umum, biasa, ataupun begitu-begitu saja.
- What to do is what you get! Selebriti adalah public figure yang kehidupannya disimak komunitas makro. Penilaian atas karakter personal brand ada di tangan masyarakat.
- Keep innovate! Jangan pernah berhenti menciptakan sesuatu yang baru. Dulu musik gamelan terdengar sangat kental elemen budaya Jawa-nya. Di tangan Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya, gamelan Jawa terasa beda. Memiliki akseptabilitas tinggi karena telah mengakomodir budaya pop.
“Building a certain brand is not always done by persuading
audiences in a direct marketing activity. You can do this by making your people
fall in love with the product they have just made.”
Prinsip internal
branding di atas tidak saya cuplik dari referensi manapun. Apa yang saya tulis
di atas adalah buah dari inspirasi ketika saya berhadapan langsung dengan
sebuah brand yang saya kelola. Beragam cobaan mendera fikiran saya saat itu.
Mulai dari pesimisme tim sales dan marketing terhadap kualitas produk hingga
resah dan gelisahnya tim teknisi yang kalang kabut mencari solusi atas cacatnya
fisik brand yang saya tangani.
Padahal brand
yang saya kelola saat itu sedang dipersiapkan untuk sebuah ”hajatan” besar,
masuk iklan televisi. Sebuah ”hajatan” yang seringkali diidam-idamkan oleh
banyak produk. Sebuah ”point of achievement” yang seringkali dinyatakan sebagai
era kebangkitan sebuah brand. Betulkah beriklan TV adalah sebuah puncak
kesuksesan? Ataukah ini merupakan titik awal dari sebuah kehancuran brand?
Untuk mengetahui jawabannya mari kita telisik paparan berikut.
Asal pertama
berkenalan dengan brand yang hendak saya kelola, saya begitu optimis dengan
rencana strategis manajemen yang saya nilai punya kemauan kuat untuk membangun
brand secara progresif. Keberadaan saya memang untuk membantu strategi
komunikasi pemasaran yang tepat, dengan bujet yang sudah dinyatakan dalam angka,
demi mencapai result yang bombastis, menjadi yang terdepan.
Sambil jalan
mengenali product knowledge yang begitu rumit dan banyak sekali variannya, saya
kemudian sering bersentuhan dengan sumber daya manusia di internal perusahaan.
Saya banyak berbicara dengan semua level karyawan, mulai dari kuli gudang,
sopir, teknisi, sales, hingga manajemen. Selalu saya ajukan pertanyaan yang
itu-itu saja, ”Bagaimana kualitas produk kita sebenarnya?”, ”Bagaimana
keawetannya?”, atau ”Seberapa banyak barang yang harus masuk daftar retur
setelah didistribusikan?”
Jawaban yang saya
dapat agak mencengangkan. Dari jawaban level kuli hingga sales mengatakan bahwa
barang kita nggak seberapa bagus. Sering rusak dan banyak retur-nya. Tapi dari
pihak manajemen jawaban yang saya dapat sungguh berlawanan arah. Dikatakan oleh
mereka bahwa keunggulan barang kita ada pada ”quality” yang di atas rata-rata.
”Waduh.....saya bilang dalam hati bahwa brand yang saya kelola sedang
terinfeksi oleh gejala ”dishonest on brand facts”. Di kamus brand, mungkin Anda
tidak akan temukan jenis penyakit ini, karena memang saya menamainya lebih
karena case yang sedang saya hadapi.
Saya tidak akan
meneruskan kisah di atas lebih panjang lebar lagi, karena memang bukan itu
esensi yang ingin saya bicarakan di sini. Kemudian timbul pertanyaan besar
dalam diri saya, ”Apakah mungkin seorang sales akan menghasilkan income yang
besar apabila di lubuk hatinya yang terdalam tidak ada sedikitpun hati untuk
brand yang diusungnya?Apakah mungkin berhasil jika di dalam diri sales tersebut
masih ada kepura-puraan dalam memperlakukan brand bersangkutan? Untuk
mengetahui jawabannya, mari kita telaah lebih detail lagi tentang perilaku
sales officer.
Boleh dikata
sales officer adalah ujung tombak bagi sebuah perusahaan dalam memasarkan
produk-produknya. Ibarat sebuah senjata, sales adalah artileri-nya. Mereka-lah
yang dimuntahkan ke publik untuk mencapai target yang diinginkan. Hasilnya bisa
jitu bisa pula meleset. Sales Officer bisa berhasil karena beragam faktor. Bisa
karena dia menikmati pekerjaannya, atau karena terdorong kebutuhan ekonomi,
atau juga karena terpaksa akibat tiada
pilihan lain. Akan sangat beruntung sekali apabila sebuah perusahaan dipenuhi
oleh sales team dengan motivasi kerja karena enjoy dengan pekerjaan yang
digelutinya. Karena didukung oleh faktor ”menikmati”, maka result yang didapat
akan sangat besar, yaitu income gedhe, kejujuran, dan paling penting adalah
loyalitas terhadap perusahaan. Saya begitu percaya bahwa loyalitas employees
akan sangat berkaitan dengan loyalitas terhadap brand. Seorang pimpinan akan
sangat kecewa apabila ada staf-nya yang bertindak tidak jujur. Dan sebaliknya
akan memberikan apresiasi tinggi terhadap karyawan yang loyal.
Loyalitas
karyawan terhadap perusahaan memiliki dampak yang cukup strategis untuk
berkembangnya sebuah brand. Rentetannya akan bermuara pada loyalitas terhadap
sebuah brand. Meski tidak berlaku mutlak terhadap progresifitas brand,
loyalitas bentuk ini akan melakukan driving secara emotional terhadap agent of
brand doers. Tetap semuanya harus disertai dengan perbaikan di segala lini
seperti kualitas manajemen, pengembangan sumber daya manusia yang baik, dan
perbaikan kualitas produk yang berkesinambungan. Tidak hanya berlaku untuk
sales officer saja, saya merekomendasikan semua level karyawan baik yang di
tingkat bawah hingga atas untuk seia sekata dalam mempersepsikan brand yang
diusungnya. Karena tugas mengusung brand, menurut hemat saya bukan hanya tugas
departemen marketing atau brand semata. Karena tugas ini adalah tugas semuanya.
Bayangkan betapa dahsyat-nya apabila word of mouth yang mengatakan sebuah brand
tertentu memiliki deretan nilai positif untuk ccustomer diucapkan oleh semua
karyawan dari level bawah sampai atas. Saya rasa kerja seorang Brand Manager
atau Marketing Manager tidak terlalu ngoyo lagi. Deru napas mereka dan degup jantung
mereka tak akan berpacu cepat lagi. Yang tersisa sekarang adalah melakukan
maintenance terhadap brand bersangkutan ke dalam (internal) dan ke luar
(external). Karenanya sebelum beriklan di TV, siapkanlah terlebih dahulu sumber
daya manusia yang dahsyat yang akan menjadi brand ambassador sebenarnya dari
brand yang Anda usung. Selamat mencoba!
Ketika membaca tulisan Bayu Abdinegoro pada BrandDNA edisi perdana, jadi teringat memori masa lalu. Saat itu, saya masih mengelola brand dalam kapasitas saya sebagai seorang brand manager. Tulisan Bayu yang sedikit menyentil tapi memang benar-benar terjadi adalah bagaimana seseorang atau pebisnis memandang eksistensi atau value dari sebuah brand. Beragam pandangan soal brand datang dari para pelaku bisnis di negeri kita. Ada yang menyikapinya secara positif, ada yang biasa-biasa saja, ada yang cuek bebek, atau malah sebaliknya euphoria-nya amat sangat berlebihan. Istilah brand sendiri di Indonesia muncul agak telat. Namun demikian, ini tidak berarti para pelaku usaha Indonesia sama sekali tidak memahami brand. Ketika mereka memulai sebuah usaha pun, tanpa disadari mereka telah melalui sebuah elemen dasar dari sebuah brand building, yaitu naming. Kelemahan mereka hanya satu, tidak memberikan ruh pada nama brand yang mereka buat. Mereka tidak mempekerjakan brand sebagai sesuatu yang harus berproses. Mereka hanya menciptakan nama dan kemudian menunggu brand itu berkarya sendiri tanpa melalui rangkaian proses yang semestinya. Baru ketika berbagai keberhasilan bisnis di Indonesia banyak dikaitkan dengan makhluk yang bernama “brand”, saat itu juga dunia bisnis sontak tersentak. Orang mulai beramai-ramai me-rebrand produk mereka. Mulai dari redesign logo hingga layanan terpadu pada komunikasi marketing yang lebih dikenal dengan Integrated Marketing Communications. Imbas dari merebaknya trend ini adalah bermunculannya advertising agency yang jumlahnya mencapai ratusan. Belum lagi subordinate dari advertising agency seperti percetakan, pengusaha instalasi papan reklame, hingga tukang sablon yang kemudian banyak menjamur di kota-kota besar. Banyak orang kemudian menganggap brand laiknya dewa. Brand dianggap mampu menyelesaikan permasalahan bisnis yang mereka hadapi. Bahwa solusi paling tepat adalah brand development. Pendapat yang benar tapi tidak juga 100 persen benar. Solusi paling tepat adalah lebih melihat pada sebuah kebutuhan. Layaknya orang sakit, sebuah brand mesti dicek dulu kesehatannya. Tidak ada namanya orang sakit demam biasa harus diberikan anti-typhoid. Tidak ada gunanya pula meredesign corporate identity, jika dalam kenyataannya kondisi kesehatan perusahaan atau sebuah produk masih dalam tataran yang boleh dibilang dalam keadaan sehat wal afiat. Stigma bahwa brand building adalah integrated marketing communications merekat kuat pada banyak pelaku bisnis di Indonesia. Ini banyak terjadi di kota-kota besar setelah Jakarta. Masih banyak pebisnis awam yang mengaplikasikan brand strategy secara total (baca:membabi buta) tanpa melakukan brand diagnostics terlebih dahulu. Pada akhirnya brand building bukan menjadi solusi atas problem marketing pada perusahaan-perusahaan tersebut. Brand building hanya menjadi euphoria trend yang genderangnya ditabuh begitu membahana. Begitu membahananya hingga core message yang ingin disampaikan tidak kena sasaran. Agar pelaku bisnis/sang klien bisa memahami konsep brand development yang tepat, ada baiknya kita (baca:brand manager, marketing manager, product manager, brand consulting, advertising agency) mengenali karakter sang klien dengan baik. Anda harus melakukan proses edukasi kepada mereka. Dalam mengedukasi mereka ada beberapa hal yang musti diperhatikan, di antaranya: - Catch his/her personal background
Latar belakang bisnis, positioning personal brand, pendidikan, sosio-kultural budaya mereka harus kita perhatikan. Tidak tepat kiranya apabila kita mengedukasi seorang pengusaha yang sama sekali tidak melek brand dengan cara memaksa. Karena tipe yang seperti ini harus di-drive pelan-pelan - Avoid misunderstanding!
Hindari terjadinya kesalahpahaman sewaktu melakukan proses edukasi kepada mereka. Advis harus terarah, tepat sasaran, dan disampaikan dengan alur yang terstruktur. - See the promotion budget!
Jangan pernah merekomendasikan marketing tools atau integrated marketing communications yang tidak sesuai dengan kemampuan budget promosi mereka. Kesalahan ini kerap dilakukan oleh advertising agency yang hanya ingin mengambil profit besar dengan cara instant. Ketidaksinkronan ini sering menyebabkan sebuah rekomendasi yang gagal atau tidak disetujui. - Treat them as partner!
Kesalahan utama dari brand consulting dan banyak advertising agency adalah memperlakukan klien/pelaku bisnis seperti anak didik. Pelaku bisnis atau klien adalah figure-figur yang unique. Artinya tidak serta merta kita menganggap mereka sebagai personal yang benar-benar blank soal brand. Selama ini bisnis mereka bisa jadi berjalan tanpa landasan brand strategy yang jelas, tapi buktinya mereka kaya raya. Itu berarti ada factor X (baca:insting bisnis) yang tidak bakalan Anda temukan misterinya di buku manapun. Lebih bijak apabila Anda perlakukan mereka sebagai mitra berdiskusi, brainstorming, dan cari solusi sama-sama. Posisi Anda adalah sebagai pengatur alur supaya brand strategy bisa terangkum dengan lebih sistematis. - Recommend the solution, not to offer!
Kemungkinan bisa lebih dari satu. Rekomendasikan solusi terbaik untuk klien disertai dengan reasoning yang tepat. Solusi bukanlah hal yang ditawarkan. Karena penawaran masih mengandung unsur keraguan. Dalam rekomendasi, secara eksplisit hal itu bisa dilihat lebih sebagai sebuah penegasan. - Talk ‘bout the fact, not the dream!
Fakta dan mimpi adalah sesuatu yang berlawanan. Menjanjikan hal-hal yang berlebihan tidak akan membawa efek positif buat klien. Berbicara realistis dan memposisikan diri kita sebagai business motivator adalah dua hal yang harus kita lakukan. - Reach the somethin’ beyond!
Hindari berpuas diri atas sebuah keberhasilan. Ajak klien untuk bersama-sama memompa semangat berinovasi menghasilkan strategi-strategi baru yang brilliant. Drive mereka untuk menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Sesuatu yang impossible menjadi sangat possible. Mengedukasi brand pada pebisnis awam adalah hal yang gampang-gampang susah. Dibilang gampang karena sebagian dari mereka adalah pebisnis yang sedang bersemangat belajar brand strategy. Dikatakan susah karena masih banyaknya pula pemikiran bahwa human instinct is more powerful instead of a brand. Karenanya mengikuti 7 tips di atas kiranya bisa menjadi acuan buat Anda yang kerap kesulitan mengarahkan pimpinan, partner, ataupun klien yang masih memandang rendah tentang pentingnya sebuah brand value, tentang pentingnya brand strategy. Selamat mencoba! (artikel telah dimuat pada majalah Brandna edisi Franchise Branding)
 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Cell-phones | | Manufacturer: | Nokia |
Boleh dibilang ini adalah Nokia pertama saya. Enggan memiliki gadget sejuta umat ternyata tidak bertahan lama. Pada akhirnya saya harus takluk dengan super brand yang satu ini. Setelah merasai betapa distinctive-nya ponsel Mitsubishi dan Philips dengan sangat menyesal saya memang harus mengatakan bahwa kegagalan ponsel besutan Jepang dan Belanda ini lebih karena ketidakmampuan mereka memahami keinginan konsumen ponsel di Indonesia.
Saya memilih Nokia 6233 karena bentuknya yang lux, stainless steel ornamented, dan warna-nya yang black banget. Tidak banyak ponsel yang menggabungkan beragam keunggulan dalam sebuah unit. Photo, Video, Music Player, dan Business Tools bisa didapatkan di Nokia 6233. Momen-momen makin bernilai dengan camera 2 Megapixel yang telah dibenamkan dalam ponsel ini, sudah dibuktikan hasil cetaknya cukup mencengangkan. Music Player-nya didukung oleh stereo system yang super dahsyat. Belum lagi business tools yang dilengkapi dengan Account Email Wizzard yang akan memandu kita dalam penggunaan POP3 Email. Calculator juga sengaja diprogram dengan model Scientific Calculator.
Ponsel 3G ini hanya punya satu kekurangan. Tidak ada-nya mirror camera membuat video calling yang menjadi andalan 3G akan bikin kita kerepotan. Lain-nya sih fine-fine saja. Dari segi harga lumayan berat di ongkos. Di awal kemunculannya ponsel ini dibanderol dengan harga Rp.3.2 juta. Kini sudah terjun bebas di angka Rp.2.8 juta. O..ya...memori-nya bisa diperluas hingga 2GB. Ciamik kan??  | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Sidoarjo |
Luar biasa. Hanya satu frase itu yang bisa saya teriakkan saat jari jemari saya mulai mencengkeram daging tebal ikan gurame itu. Harum bau ikan bakar-nya kerasa banget. Meski suasana riuh rendah ditingkahi oleh melubernya pengunjung warung lesehan itu tak menyurutkan semangat saya untuk makin bertindak gila dengan menjelajahi tiap rongga tubuh gurame dengan ganasnya.
He..he...rakus banget ya....Yup. Bagi siapa saja yang kebetulan atau memang sengaja mau mencoba dahsyatnya ikan bakar ini silakan saja datang ke sini, daerah Cemengkalang Sidoarjo kota. Pusatnya ada di sini ini dan cabangnya ada di dekat GOR Delta. Ragam ikan banyak juga, anda bisa pilih Gurame (favorit saya), Mujaer, Kakap Merah atau Ikan Mas. Pokok-nya gedhe-nya sak gedebok pisang (waduh...kalo ini mulai hiperbola-nya keterlaluan nih). Yang jelas kalau dibawa pulang harga-nya lebih mahal. Gurame kalau dimakan di sana harga per ekor Rp.10.000, sedang kalo dibawa pulang jadi Rp.12.000/ekor. enak dimakan sana donk.....
Sebuah unique selling yang benar-benar unique. Di mana saat kebanyakan pelaku usaha warung di negeri kita memanjakan konsumen dengan fasilitas (baca: unit bangunan mewah, pelayan yang ramah, pernik-pernik interior yang wah, dan seabreg diskon untuk pembelian paket tertentu dan sebangsanya), Ikan Bakar Cak Onny tampil apa adanya. Tak ada secuil pun komponen marketing yang dibuat-buat. Benar-benar apa adanya. Bangunan juga kayu triplek, di-cat warna hijau lagi, meja-meja makan pake lesehan dan gak ada estetika sama sekali. Namun ya ampuuunnnn....pembeli-nya....rame gak ketulungan.
Nah para marketer, ternyata masih ada ya di dunia ini orang jualan dengan apa adanya. No promotion at all. Quality is above all, Cak Onny said. Link: http://mimimama.blogspot.comFahmi ini salah satu teman lama saya. Figur yang rada unique. Slow but motion. Persis dengan hobi-nya sebagai F1 spectator. Blog dia banyak mengupas adu balap selain beberapa artikel marketing yang benar-benar real. Link: http://www.myusuf.or.idYusuf is one of the best sharing partner for everything. Writing is his preference and technology development is something consumable for him. Tiara Lestari adalah sebuah fenomena.
Kemunculannya di Majalah Playboy adalah bagian dari sebuah pop culture.
Keikutsertaannya menyemarakkan jenis budaya yang pergerakannya
fluktuatif ini bisa disetarakan dengan budaya pop yang dihembuskan oleh
Inul Daratista. Bedanya, Inul melahirkan satu budaya baru di negeri
sendiri. Efeknya cukup meluas, bahkan sampai ke luar negeri. Kalau
Tiara menajamkan kukunya di luar negeri. Efeknya mau nggak mau harus ke
negeri dia sendiri, di Indonesia. Kalau ada orang bilang
wajahnya nggak cantik-cantik banget itu adalah sesuatu yang salah
besar. Tiara punya segalanya. Dalam marketing ada istilah Unique
Selling Proposition. Tiara punya hal itu. Eksotisme wajahnya yang khas
Indonesia menjadi daya tarik tersendiri. Keberaniannya menyeruak di
tengah budaya yang masih "ketat" menyoroti nudisme sebenarnya bukan
sesuatu yang baru. Banyak sekali senior Tiara yang sebelumnya telah
merintis pose-pose seksi. Nggak perlu untuk disebutkan nama, saya kira
Anda semua pasti lebih tahu daripada saya. Yang membedakan cuma satu,
Tiara berpose di Playboy, icon-nya majalah pemuja wanita seksi. Tiara
kalau boleh saya sebut adalah juga seorang sexy-digital marketer.
Totally plunge herself into the internet marketing. Dia tahu betul
bagaimana memanfaatkan sebuah teknologi tanpa harus mengeluarkan budget
promosi begitu besar. Lihat bagaimana copywriting dia dalam
http:/tiaralestari.blogspot.com. Mengesankan dan persuasif.
Terus terang saya adalah marketer yang juga penggemar wanita cantik.
Ada satu ilmu dalam psikologi yang sebutin teori bahwa good looking
person biasanya stupid. Tentunya statemen itu tidak benar 100 persen.
Namun sepanjang pengamatan saya kok sepertinya memang benar. Coba saja
lihat di sekeliling kita. Tiara adalah satu dari sepersekian
pengecualian. Tiara has maximised successfully her brain to explore
what's inside. Not only her sexy pose but also the way she market
herself. Personal Branding. Namun demikian, apa yang coba
dipasarkan Tiara saat ini harus dikembangkan. Bukan berarti harus
berpose lebih syur lagi. Tapi adalah penggalian potensi diri lebih
dalam lagi. Ingat, ini adalah pop culture yang punya masa berlaku. Ada
expired date-nya. Siapa yang nggak inovatif dia harus siap terjengkang.
Coba saja lihat contoh pop culture di Indonesia yang easy come and easy
go, seperti Inul Daratista misalnya. Tiara...are you ready to dig your
own potency deeper? I'm sure you can do that!
Businessman always thinks hard how to manage their business
into success story. Everything is considered to become the essential factor to
boost the company's sales growth. People use the "always strategy" is that sell-sell-and
sell. Rarely do they think about the strategy of making buyer impressed with
your product and services. They seldom use the campaign, which is a strategy to
boost the corporate image. By enhancing
your corporate communications, I am sure you will get everything that you want.
For successful campaign, follow me to consider the 10
Great Ways below:
- Knowing
Your Product
Before you market a certain
product, please be sure to recognize your product, be it: shape, features,
weakness, and also price. It is dangerous if you only sell your product or
services without knowing them well.
- Knowing
Your Market Shares
Pricing will determine your market
shares. You know your product very well. Then you know the price and to which
segment you market it, high end, middle end, or low end.
- Knowing
Your Company Policy
There are differences within
companies. Lots of companies ignore the modern campaign strategy. Every single
penny is worth million dollars. Every single thing is worth million think. You
can easily reach your goal if you are in line with the company policy about
campaign strategy.
- Knowing
Your Campaign Strategy
Plunge yourself into reality! Don't
make yourself a stranger in your own company. Make an outline how to promote
your product and services based on market demand. To know your market demand,
you can make questionnaires to your target markets. You can ask them what they
want actually. Thus, you can determine what type of promotion strategy that is
appropriate with your company soul and budget, of course.
- Knowing
Your Media Relations
You are nothing if you have no
friends. Men are created to work with others. You cannot work by yourselves.
You will need companions or team that will assist you in managing brand to
become the #1 Brand in the universe. You are going to work with printing
solutions, advertising agency, event organizer, or media partners. Expand and
build your network.
- Knowing
Your Responsibility
This is your responsibility now to
value your creative work. Judge whether you have succeeded or not. Calculate
how much you can boost your sales growth. Then, see the alternative ways to
campaign your products.
- Knowing
Your Alternate Solutions
Get inside! Find the alternate
solutions to market your products. Find the mystical shortcuts to accelerating
your sales growth. Market your products with crazy spirit as Savage
Garden says-Truly-Madly-Deeply.
Mungkin judul artikel di atas sedikit menimbulkan tanda
tanya. Utamanya buat perusahaan ataupun korporasi kelas kakap yang kerap lupa
diri karena tuntutan prestige. Ketika pertama kali terjun di dunia advertising,
saya pun masuk dalam lingkaran pemuja prestige bahwa untuk menjadi besar
dibutuhkan pengorbanan yang ekstra besar juga. Bahwa untuk merajai pasar
diperlukan kantong cadangan yang super besar juga. Dalam berbagai kesempatan
diskusi bab komunikasi pemasaran pun saya tak lupa menyelipkan pesan tentang
pentingnya anggaran khusus untuk membesarkan sebuah brand.
Respon atas rekomendasi saya waktu itu beragam sekali. Namun
kebanyakan saya berhasil meyakinkan kolega ataupun klien bahwa memang untuk
menjadi besar harus ada bujet promosi. Dasar memang jualan, saya dengan
optimisnya memberikan rekomendasi marketing tools mulai dari sekedar kartu
nama, brosur hingga produk digital macam website ataupun multimedia profile.
Sebenarnya biaya ditawarkan waktu itu mahal sekali kalau kita tahu biaya
produksi secara real. Belum lagi, bila difikir lebih dalam mengenai skala
prioritas, perusahaan tersebut belum waktunya bikin website. Market
coverage-nya kelas C. Tapi apa boleh buat, klien-nya dengan enteng keluarkan duit
gedhe. Yang terfikir olehnya adalah prestige dan kebanggaan bahwa marketing
tools-nya digarap oleh sebuah agency ternama.
Ketika akhirnya saya memutuskan untuk bermutasi ke korporat,
ada beberapa kejadian menarik yang membuat saya sedikit guncang. Ketika berada
dalam sebuah environment baru dan 99 persen penghuninya berfikiran tradisional,
utamanya soal brand building, saya menjadi sedikit terdesak. Idealisme dan
paradigma berfikir saya yang ad-sentris ternyata tidak lebih baik dari kondisi
real yang ada di lapangan. Saya kemudian terjerembab dalam kubangan
ketidakpragmatisan diri yang angkuh.
Wahai Saudara Saudariku para marketer dan orang awam
sekalipun-marilah kita berfikir sedikit lebih arif soal uang dan pola perilaku
penggunanya. Dalam keadaan tidak ada uang sepeser-pun, seseorang bisa menjadi perencana
keuangan yang handal. Ketika pertama kali bekerja sebagai seorang dosen di
sebuah perguruan tinggi swasta, saya digaji 600 ribu perak per bulan. Meski
masuk kategori pas-pasan, tapi itu sudah cukup buat saya. Saya tidak kurang
suatu apa. Buat makan malah yang enak-enak. Ketika penghasilan mulai beranjak
membaik, gaya hidup saya pun
bergeser. Sedikit borjuis dan cenderung konsumtif. Meski gaji naik, pengeluaran
saya makin menggila.
Sorry..itu tadi sedikit omong kosong. Saya hanya ingin
menganalogikan perilaku berbisnis dengan contoh sederhana, dalam perencanaan
keuangan pribadi misalnya. Sekarang kita kembali ke masa ketika saya berada
dalam area korporat. Secara kebetulan korporasi tempat saya bergabung owner-nya
adalah asli dari Cina daratan. Di sini saya banyak belajar dari beliau. Bahwa
berapapun yang kita keluarkan harus mampu menggenerate sales dalam jangka
pendek. Luar biasa. Sekaligus membingungkan. Luar biasanya, ini adalah sebuah
tantangan. Bingungnya, sepertinya ini adalah hal yang mustahil.
Untuk sebuah efektifitas bisa jadi pendapat beliau ada
benarnya. Yang bisa saya tangkap adalah kearifan dalam memetakan tiap pos
pengeluaran. Ketika perusahaan menganggarkan biaya promosi sekian milyar, bukan
berarti serta merta harus kita habiskan. Jika kita bisa berkreasi dan
memaksimalkan sumber daya manusia yang kita miliki kenapa juga harus melakukan
brand outsourcing kepada pihak luar? Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada
kawan-kawan di advertising agency ataupun brand consultant, saya ingin
mengajukan sebuah pertanyaan kepada para brand manager, marketing manager, dan
PR manager, "What if someday you could map your creative idea, explore your
ideas, and then act as the creative director for your own products? Tentu saja,
sebuah advertising agency tidak terlibat di dalamnya. Anda hanya boleh bekerja
dengan sutradara. Dialah partner Anda untuk berkreasi. Sedikit susah bukan?
Jika Anda mampu melakukan hal itu, saya yakin sekali Anda
akan memperoleh apa yang Anda inginkan. Efisiensi dan kepuasan. Karena di sini
Anda telah melakukan efisiensi biaya yang luar biasa. Anda bersentuhan langsung
dengan elemen produksi. Anda jadi tahu betul breakdown dari tiap pos
pengeluaran. Sisa anggaran yang ada bisa digunakan untuk program komunikasi di
tahun berikutnya. Selain itu, Anda bukan saja menyandang gelar brand manager,
tapi juga creative director. Anda juga puas dan dengan bangga mengatakan bahwa
ini lo iklan yang sudah saya bikin.
Terus terang saya belum pernah melakukan riset dengan data
kuantitatif yang presisi. Tapi saya yakin bahwa outsourcing lebih menjadi
pilihan buat Anda. Ngapain repot-repot?Kita tinggal ongkang-ongkang, iklan
pasti sudah jadi. Saya tidak bermaksud mengharamkan preferensi yang sudah jadi
opsi utama. That's your choice! Saya hanya berusaha memaparkan sebuah analogi,
jika kita bisa bikin TVC dengan bujet 50 juta kenapa juga kita harus keluarkan
duit 150 juta?? Saya yakin Anda lebih paham mengenai product knowledge yang
Anda jual daripada advertising agency yang anda hire. Itulah kenapa saya
sedikit ngotot berargumentasi bahwa "You are the Key Player!".
Semalam baca Anti-Marketing-nya Kafi Kurnia soal eksekutif
busuk. Ini adalah sebuah pandangan yang lebih ekstrem lagi. Bahwa return
investment harus jelas. Jika Anda memproduksi iklan senilai Rp. 100 juta,
setelah beriklan Anda harus dapatkan nilai lebih dari Rp.100 juta atas
penjualan produk Anda. Ini bukanlah semudah membalik telapak tangan. Perlu
perjuangan keras, apalagi komoditi yang Anda jual adalah new product. Budaya
tampil cantik secantik-cantiknya tanpa berfikir atas investasi yang dikeluarkan
inilah yang disebut Si Jabrik sebagai eksekutif busuk.
Saya rasa ini hanya sekedar pengungkapan gagasan yang bisa
dipertimbangkan. Ketika Anda bertindak sebagai manajer, Anda bukanlah pekerja.
You are the owner. You are not the vehicle, as you are the think tanker. Saya
hanya ingin mengajak Anda memaksimalkan inner power dan meminimalkan anggaran
promosi. Lain tidak. Di sini tidak ada maksud mendeskreditkan profesi brand
consultant ataupun advertising agency. Kehadiran mereka tetap penting sebagai
mitra kerja Anda apabila kondisi departemen Anda kurang memungkinkan Anda untuk
bekerja sendiri. Dengan kerja tim yang baik antara Anda dan mereka, sudah pasti
hasilnya akan memuaskan.  | Guestbook | |
 |
oi, ayo blognya diupdate lagi... biar bisa diliput masuk koran hahahaaa :D |
 |
Monica Bellucci akan kita bahas pada sesi tersendiri. Akan kita ambil setting di THR mas! |
 |
"...Terus terang saya adalah marketer yang juga penggemar wanita cantik..." Sama mas...saya juga penggemar wanita cantik... Monica Bellucci nggak dibahas mas....? he he he... |
| |